Beautiful Is Not Always Perfect
Bismillah, kali ini aku mencoba keahlianku untuk menulis sedikit cerita tentang kehidupan, semoga mudah dimengerti yah bahasanya. hihii, maklum... ^^
Suatu hari di sebuah universitas fashion di kota Jakarta, Larisa adalah seorang mahasiswi yang terkenal aktif dikampusnya. Dia itu seorang gadis yang beranjak dewasa dengan pertumbuhannya yang sempurna, dan dia itu adalah temanku yang, umm... yah, dia cantik, tapi tingkahnya terkadang konyol sekali. Ketika itu kami berdua sedang istirahat di kantin.
"Lo kok gak makan sih? Diet?" tanyaku padanya yang hanya memperhatikan gadgetnya itu. Dasar manusia jaman sekarang, walaupun terkadang aku juga begitu, hehe...
"Gue udah pesen dari tadi, cuma belum pada dateng aja,", jawabnya.
"Emang lo pesen apaan? Kayak yang banyak aja belum pada dateng", balas gue penasaran.
"Pesen mie ayam, terus batagor, sama jus stoberi, udah... itu aja kok", jawab si wanita itu dengan santai. Yaampun Larisa, cakep - cakep makannya rakus dan sebenernya emang gak berubah semenjak pertama aku kenal dia. Tapi dia tetep jago jaga badan, salut deh sama dia.
"Tuh udah dateng ronde pertama. Dasar lo... Lagi setres ya?" tanyaku sambil tersenyum geleng - geleng kepala.
"Iya gitu deh... sebenernya gue juga gak mood, tapi gue lagi kesel sama cowok gue", ucapnya sambil mewek sambil melahap mie ayamnya juga. Hmm... kasian Larisa, dia itu pacaran jarak jauh udah lama banget dan sebenarnya aku juga, tapi aku merasa kenapa cobaannya itu berat banget ya. Dia pernah cerita dia bosen sama cowoknya, dan dia jujur kalo dia pernah jalan sama cowok lain disini. Bahkan dia bilang dia suka sama cowok itu, tapi yang bikin aku tenang biar gimanapun dia tetep milih pacarnya yang jauh itu. Larisa, Larisa, masalahnya dengan pacarnya itu gak jauh - jauh dari rasa cemburu pacarnya itu sama dia yang sering jalan dengan berbagai macam lelaki. Tapi perlu aku tegaskan disini, Larisa bukan tipe cewek gampangan, mungkin dia itu terlalu open dengan lelaki manapun jadi mungkin para lelaki itu gak bisa bedain antara teman dan bukan teman. Ditambah lagi kalo dia lagi berantem sama pacarnya itu, mungkin ia dengan mudah mencari tempat curhat lain, dan sebenarnya dia selalu curhat ke aku. Hmm...
"Emangnya elo kenapa lagi sih? Cowok lain lagi ya?" tanya gue sambil tersenyum selayaknya ibu peri.
"Kali ini lain", jawabnya dan itu membuat jidat mengerut. "Kar, gue ditaksir temen om gue dan dia jauh lebih mapan dari cowok gue. Dan lo tau pas gue cerita itu ke Rafael, dia meledak dong. Terus dia sedih. Dia gak marah sih, cuma dia jadi nyerocos gitu". Oh, yaampun... masalah baru mendatangi temanku yang jelita ini. "Kar, menurutlo gimana? Iya jujur aja gue sih seneng - seneng aja sama itu om - om. Tapi guekan malu, masa beda umur udah jauh banget, mana katanya dia udah pernah nikah lagi. Om gue sih sebenernya gak ngejodohin juga. Tapi... gmn dong, Kar... mana dia sering nelfonin gue lagi"
"Yaudah, sa... elo sekarang milih siapa?" tanya gue dengan tenang.
"Ya cowok gue, tapi sekarang tuh gue lagi kesel sama dia". ucapnya setelah meneguk jusnya.
"Kan kondisi lo juga lagi gak sehat nih, lo gak mikir apa negatifnya, terus bakal gimana kedepannya. Gue yakin, cowok lo gitu karena dia sayang yang berlebihan." jelasku sambil menatapi paras cantiknya itu.
"Iya sih,.." ucapnya singkat. Aku yakin pasti Larisa temen gue gak segampang itu nerima lelaki manapun untuk jadi pendampingnya. Tapi yang aku sesalin memang dia terlalu emosional. Tapi tunggu, aku juga kenal baik sama pacarnya itu dan katanya dia mau ke Jakarta hari ini. Kring, kring... ponselku pun berbunyi. Oh, ternyata ada bbm masuk.
"Sa, bentar ya, udah lo tenang aja. Sekarang mending lo baikan sama cowok lo", ucapku yang lalu pergi meninggalkan Larisa seorang diri.
"Raf, elo sebagai lelaki jangan kebanyakan menye - menye sih!" ucapku kepada Rafael yang ternyata dia udah di kampus. "Tolong ya, kalo lo mau marah sama dia, bukan sekarang waktunya. Sekarang itu bikin dia senyaman mungkin sama lo".
Lalu aku dan lelaki besar nan gagah ini berjalan mendekati Larisa yang sedang, hmm... lagi - lagi asik dengan gadgetnya. Semoga aja dia main game atau apalah asal jangan chatingan sama lelaki lain. Haa... Larisa, Larisa... tingkahmu itu lho bikin gregetan.
"Sa, nih gue bawain cowok buat lo", kataku sambil tersenyum padanya.
"Kara...", ucapnya dengan mata yang berkaca - kaca. Oh yaampun, aku berharap mereka gak perang disini dan aku gak jadi tumbalnya.
"Maafin gue, gue yang bantuin Rafael kesini", balasku sedikit grogi. Aku bener - bener takut dia marah.
"Larisa..." sapa Rafael dengan lembut. "Maafin aku ya sayang, kamu maukan balikan lagi sama aku?" tanyanya, dan rupanya mereka sempet putus. Mereka so sweet banget sih. Ternyata Rafael itu cowok yang setia dan sabar banget punya pacar kayak Larisa, hihi. Ups, sekarang bukan waktunya bercanda.
"Raf, gue gak bisa jawab sekarang. Kok lo kesini gak bilang sih. Kan bisa gue jemput" jawab Larisa yang sedikit ketus. Ayolah Larisa sayang, bersikap manislaah...
"Kamu masih marah ya... maafin aku dong..." ucap lelaki gagah ini lagi.
Mereka terus aja belum akur hingga aku merasa bosan menunggunya. "Sa... Raf... udah deh kalian jalan - jalan sana, ke Mall kek, atau Cafe, refreshing kalian berdua tuh. Kan udah lama gak ketemu juga".
Akhirnya singkat cerita, merekapun akhirnya pergi jalan - jalan berdua. Semoga aja mereka bisa baikan lagi. Temen aku yang satu ini memang kadang suka keras kepala, hihi, semoga aja dia bisa lebih dewasa dalam menghadapi masalahnya itu. Ternyata cantik itu tidak selalu enak yaa... tapi aku percaya, Larisa akan jadi wanita yang cantik luar dan dalam. Amin.
"Kar, makasih yaa... Lo temen gue yang paling, paling, paling the best. Gak ada yang lain", teriaknya dibalik telfon. Senangnya melihat dia bahagia. "Pokoknya gue sayang banget sama lo, lo mau gue oleh - olehin apa?"
"Elo berlebihan deh, udah, kalian seneng - seneng aja dulu. Gue kirimin martabak manis bangka juga boleh", jawabku yang berharap lebih. Hehehe... Larisa, Larisa, ini nih yang bikin lo banyak dideketin cowok, terlalu baik tapi gak di filter. Ckckck.....
Sekian...., dan bersambung bila diharapkan. hehehe..
maklum mungkin agak aneh, karena baru mencoba untuk menulis lagi.
Semoga berkenan untuk dibaca.
^_^
Rose Pic for opening story :)
Suatu hari di sebuah universitas fashion di kota Jakarta, Larisa adalah seorang mahasiswi yang terkenal aktif dikampusnya. Dia itu seorang gadis yang beranjak dewasa dengan pertumbuhannya yang sempurna, dan dia itu adalah temanku yang, umm... yah, dia cantik, tapi tingkahnya terkadang konyol sekali. Ketika itu kami berdua sedang istirahat di kantin.
"Lo kok gak makan sih? Diet?" tanyaku padanya yang hanya memperhatikan gadgetnya itu. Dasar manusia jaman sekarang, walaupun terkadang aku juga begitu, hehe...
"Gue udah pesen dari tadi, cuma belum pada dateng aja,", jawabnya.
"Emang lo pesen apaan? Kayak yang banyak aja belum pada dateng", balas gue penasaran.
"Pesen mie ayam, terus batagor, sama jus stoberi, udah... itu aja kok", jawab si wanita itu dengan santai. Yaampun Larisa, cakep - cakep makannya rakus dan sebenernya emang gak berubah semenjak pertama aku kenal dia. Tapi dia tetep jago jaga badan, salut deh sama dia.
"Tuh udah dateng ronde pertama. Dasar lo... Lagi setres ya?" tanyaku sambil tersenyum geleng - geleng kepala.
"Iya gitu deh... sebenernya gue juga gak mood, tapi gue lagi kesel sama cowok gue", ucapnya sambil mewek sambil melahap mie ayamnya juga. Hmm... kasian Larisa, dia itu pacaran jarak jauh udah lama banget dan sebenarnya aku juga, tapi aku merasa kenapa cobaannya itu berat banget ya. Dia pernah cerita dia bosen sama cowoknya, dan dia jujur kalo dia pernah jalan sama cowok lain disini. Bahkan dia bilang dia suka sama cowok itu, tapi yang bikin aku tenang biar gimanapun dia tetep milih pacarnya yang jauh itu. Larisa, Larisa, masalahnya dengan pacarnya itu gak jauh - jauh dari rasa cemburu pacarnya itu sama dia yang sering jalan dengan berbagai macam lelaki. Tapi perlu aku tegaskan disini, Larisa bukan tipe cewek gampangan, mungkin dia itu terlalu open dengan lelaki manapun jadi mungkin para lelaki itu gak bisa bedain antara teman dan bukan teman. Ditambah lagi kalo dia lagi berantem sama pacarnya itu, mungkin ia dengan mudah mencari tempat curhat lain, dan sebenarnya dia selalu curhat ke aku. Hmm...
"Emangnya elo kenapa lagi sih? Cowok lain lagi ya?" tanya gue sambil tersenyum selayaknya ibu peri.
"Kali ini lain", jawabnya dan itu membuat jidat mengerut. "Kar, gue ditaksir temen om gue dan dia jauh lebih mapan dari cowok gue. Dan lo tau pas gue cerita itu ke Rafael, dia meledak dong. Terus dia sedih. Dia gak marah sih, cuma dia jadi nyerocos gitu". Oh, yaampun... masalah baru mendatangi temanku yang jelita ini. "Kar, menurutlo gimana? Iya jujur aja gue sih seneng - seneng aja sama itu om - om. Tapi guekan malu, masa beda umur udah jauh banget, mana katanya dia udah pernah nikah lagi. Om gue sih sebenernya gak ngejodohin juga. Tapi... gmn dong, Kar... mana dia sering nelfonin gue lagi"
"Yaudah, sa... elo sekarang milih siapa?" tanya gue dengan tenang.
"Ya cowok gue, tapi sekarang tuh gue lagi kesel sama dia". ucapnya setelah meneguk jusnya.
"Kan kondisi lo juga lagi gak sehat nih, lo gak mikir apa negatifnya, terus bakal gimana kedepannya. Gue yakin, cowok lo gitu karena dia sayang yang berlebihan." jelasku sambil menatapi paras cantiknya itu.
"Iya sih,.." ucapnya singkat. Aku yakin pasti Larisa temen gue gak segampang itu nerima lelaki manapun untuk jadi pendampingnya. Tapi yang aku sesalin memang dia terlalu emosional. Tapi tunggu, aku juga kenal baik sama pacarnya itu dan katanya dia mau ke Jakarta hari ini. Kring, kring... ponselku pun berbunyi. Oh, ternyata ada bbm masuk.
"Sa, bentar ya, udah lo tenang aja. Sekarang mending lo baikan sama cowok lo", ucapku yang lalu pergi meninggalkan Larisa seorang diri.
"Raf, elo sebagai lelaki jangan kebanyakan menye - menye sih!" ucapku kepada Rafael yang ternyata dia udah di kampus. "Tolong ya, kalo lo mau marah sama dia, bukan sekarang waktunya. Sekarang itu bikin dia senyaman mungkin sama lo".
Lalu aku dan lelaki besar nan gagah ini berjalan mendekati Larisa yang sedang, hmm... lagi - lagi asik dengan gadgetnya. Semoga aja dia main game atau apalah asal jangan chatingan sama lelaki lain. Haa... Larisa, Larisa... tingkahmu itu lho bikin gregetan.
"Sa, nih gue bawain cowok buat lo", kataku sambil tersenyum padanya.
"Kara...", ucapnya dengan mata yang berkaca - kaca. Oh yaampun, aku berharap mereka gak perang disini dan aku gak jadi tumbalnya.
"Maafin gue, gue yang bantuin Rafael kesini", balasku sedikit grogi. Aku bener - bener takut dia marah.
"Larisa..." sapa Rafael dengan lembut. "Maafin aku ya sayang, kamu maukan balikan lagi sama aku?" tanyanya, dan rupanya mereka sempet putus. Mereka so sweet banget sih. Ternyata Rafael itu cowok yang setia dan sabar banget punya pacar kayak Larisa, hihi. Ups, sekarang bukan waktunya bercanda.
"Raf, gue gak bisa jawab sekarang. Kok lo kesini gak bilang sih. Kan bisa gue jemput" jawab Larisa yang sedikit ketus. Ayolah Larisa sayang, bersikap manislaah...
"Kamu masih marah ya... maafin aku dong..." ucap lelaki gagah ini lagi.
Mereka terus aja belum akur hingga aku merasa bosan menunggunya. "Sa... Raf... udah deh kalian jalan - jalan sana, ke Mall kek, atau Cafe, refreshing kalian berdua tuh. Kan udah lama gak ketemu juga".
Akhirnya singkat cerita, merekapun akhirnya pergi jalan - jalan berdua. Semoga aja mereka bisa baikan lagi. Temen aku yang satu ini memang kadang suka keras kepala, hihi, semoga aja dia bisa lebih dewasa dalam menghadapi masalahnya itu. Ternyata cantik itu tidak selalu enak yaa... tapi aku percaya, Larisa akan jadi wanita yang cantik luar dan dalam. Amin.
"Kar, makasih yaa... Lo temen gue yang paling, paling, paling the best. Gak ada yang lain", teriaknya dibalik telfon. Senangnya melihat dia bahagia. "Pokoknya gue sayang banget sama lo, lo mau gue oleh - olehin apa?"
"Elo berlebihan deh, udah, kalian seneng - seneng aja dulu. Gue kirimin martabak manis bangka juga boleh", jawabku yang berharap lebih. Hehehe... Larisa, Larisa, ini nih yang bikin lo banyak dideketin cowok, terlalu baik tapi gak di filter. Ckckck.....
Sekian...., dan bersambung bila diharapkan. hehehe..
maklum mungkin agak aneh, karena baru mencoba untuk menulis lagi.
Semoga berkenan untuk dibaca.
^_^


keren. sangat natural and menghibur ^^
BalasHapusiya kah? hihihii... trimakaciww ^^
BalasHapus